| Artikel |
Hanya hari inilah kehidupan milik Anda, bukan kemarin yang telah pergi dengan segenap suka dan dukanya, dan bukan pula esok yang belum tentu datang. Hari ini matahari memayungi Anda, dan siang menyapa Anda. Hanya hari ini milik Anda. Hakikat umur kehidupan Anda hanya satu hari, yaitu hari ini. Maka, jadikanlah kehidupan Anda abadi untuk hari ini; seakan lahir hari ini, dan hari ini pula Anda akan mati. Dengan demikian, kehidupan Anda terbebas dari dekapan derita dan himpitan duka masa lalu, serta pun tidak terpengaruh oleh kegamangan dan hantu masa depan."Saat datang pagi, jangan menunggu sore, dan bila sore datang jangan menanti pagi." (HR. Bukhari)
Mantapkan diri Anda untuk hari ini, fokuskan perhatian, bangkitkan semangat, lahirkan kreativitas dengan kesungguhan dan keuletan Anda. Untuk hari ini, Anda harus bisa melakukan shalat dengan khusyu, membaca ayat-ayat Al-Qur`an disertai penghayatan dan perenungan mendalam akan kandungannya. Untuk hari ini, Anda harus bisa melafal dzikir dengan menghadirkan hati, bijak menghadapi segala persoalan, berprilaku mulia, lapang/ridha menerima apa yang didapat sebagai bagian milik Anda, peka terhadap keadaan atau fenomena baru, menjaga kesehatan tubuh, dan memberikan manfaat untuk orang lain.
Untuk hari ini, Anda harus bisa membagi waktu; menjadikan menit-menitnya berbilang tahun, dan detik-detiknya berbilang bulan, mampu menanamkan kebaikan, memberikan nasehat indah, dan memohon ampunan dosa. Untuk hari ini, ingatlah selalu Allah, persiapkan diri Anda untuk pergi setiap saat menghadap Allah (mati). Untuk hari ini, nikmatilah hidup Anda dengan penuh kebahagiaan, kesenangan, ketenteraman dan kesejahteraan, lapang menerima rezeki, ridha terhadap anak dan istri/suami, senang dengan tugas dan pekerjaan (di kantor maupun) di rumah, menyambut riang ilmu pengetahuan dan keahlian yang dikaruniakan Allah kepada Anda.
“Maka berpeganglah pada apa yang telah Aku berikan kepadamu, dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Al-A'râf [7]: 144)
Nikmatilah hidup Anda hari ini, tanpa kesedihan, tanpa kecemasan, tanpa kemarahan, tanpa kedengkian dan tanpa perasaan dendam.
Tuliskanlah di atas prasasti hati Anda satu kalimat yang akan memotivasi hidup Anda lebih berarti, yaitu kalimat "Hanya untuk hari ini hidupmu." Tuliskan pula kalimat itu di meja atau dinding tempat kerja Anda.
Jika hari ini Anda bisa makan roti hangat dan lezat, apakah roti kering yang kemarin Anda makan beracun, ataukah Anda menanti roti esok yang belum pasti?
Jika hari ini Anda bisa meneguk air putih tawar nan segar, lantas mengapa Anda merisaukan air super asin kemarin, atau mengapa membayangkan aliran air panas esok?
Jika Anda yakin dan percaya diri, bahwa dengan kehendak dan semangat baja, Anda mampu, pasti tekad Anda adalah, "Aku hanya akan hidup hari ini.'
Dengan demikian, Anda akan memanfaatkan setiap detik waktu hari ini untuk membangun eksistensi, mengembangkan bakat dan kemampuan, serta menjaga dan mengendalikan perbuatan dari hal-hal buruk. Pasti tekad Anda akan menyatakan, “Karena hidupku hanya hari ini, maka aku harus memperbagus setiap ucapan, dan tidak mengeluarkan kata-kata kotor, keji dan tercela, baik berupa hinaan, umpatan, gunjingan ataupun ucapan-ucapan tidak pantas lainnya."
"Karena hidupku hanya hari ini, maka aku harus menata rumah dan kantor dengan baik sehingga tidak berantakan, tapi teratur dan tersusun rapi."
"Karena hidupku hanya hari ini, maka aku harus merawat dan menjaga kebersihan tubuh, memperbagus penampilan, memerhatikan dan menyesuaikan gaya dalam berjalan, berbicara serta segenap gerak-gerik dan tingkah laku dengan keadaan dan lingkungan sekitar."
"Karena hidupku hanya hari ini, maka aku harus bersungguh-sungguh taat kepada Allah; melaksanakan shalat fardhu secara utuh, diikuti shalat-shalat sunnah, mengerahkan segenap kemampuan untuk memahami Al-Qur`an, menelaah dan membaca buku-buku bermanfaat."
"Karena hidupku hanya hari ini, maka aku harus mampu menanamkan selaksa keutamaan di hati, dan mencabut pohon keburukan darinya beserta ranting-ranting kesombongan, ujub (tinggi hati), riya (pamer), kedengkian, kebohongan dan buruk sangka."
"Karena hidupku hanya hari ini, maka aku harus menjadi diri yang bermanfaat bagi orang lain, memberi nasehat yang baik, membezuk yang sakit, mengiringi kepergian jenazah, memberi petunjuk pada orang yang kebingungan, memberi makan orang lapar, dan memberikan solusi atas. kesulitan orang lain. Aku juga harus berpihak dan membantu orang yang teraniaya, mengasihi orang lemah, memuliakan orang alim, menyayangi anak kecil, dan menghormati orang yang lebih besar."
"Karena hidupku hanya hari ini, maka yang telah terjadi biarlah berlalu seperti matahari terbenam di ufuk barat. 'Wahai masa lalu, pergilah! Aku tak 'kan menangisimu, engkaupun tak 'kan pernah melihatku mengingatmu walau sesaat; engkau hanyalah masa lalu yang telah pergi meninggalkan kami, dan engkau tak 'kan pernah kembali.'"
"Adapun masa depan, engkau ada di alam misteri. Aku tak 'kan hanyut dalam mimpi. Aku tidak akan menjual diri atau berpekulasi dengan ketidakpastian. Aku tidak akan terburu nafsu untuk meraih sesuatu yang tidak nyata (hari esok). Hari esok itu tidak nyata, belum tercipta. Karena itu, tak perlu diraba."
"Wahai anak manusia, “Raihlah hari ini milik anda,” sebuah kalimat paling indah dalam perbendaharaan kamus "kebahagiaan" bagi orang-orang yang mendambakan dahsyatnya kehidupan terindah."
dikutip dari buku : Berbahagialah...Embun Publishing
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|