program wakaf
info
dikutip dari buku yang akan segera kami terbitkan
Di Mana Engkau wahai Ayahku…?
Wahai Ayah…, dengarkanlah suara hati dan dukaku ini.
Ayah…, sejatinya kaulah penyebabnya. Di manakah engkau?
Rumah yang engkau bina memanggilmu.
Anak yang kau lalaikan mencarimu, dia ingin dekat denganmu.
Pekerjaan…perusahaan…apartemen…teman-temanmu…?!
Semua itu adalah musuh bebuyutanku, karena mereka telah merampasmu dari sisiku, menjauhkanmu dariku. Meski aku tahu bahwa engkau tidak bermaksud melakukannya, semua itu kau lakukan untuk aku dan saudara-saudaraku.
Tapi wahai ayahku,
"Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atas kamu yang harus kamu penuhi, jiwamu mempunyai hak atas kamu yang harus kamu penuhi, keluargamu mempunyai hak atas kamu yang harus kamu penuhi, dan anakmu juga mempunyai hak atas kamu yang harus kamu penuhi. Maka dari itu, berikanlah hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya."[1]
"Cukuplah bagi seseorang untuk mendapatkan dosa bahwa ia telah menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya."[2]
Ayahku…, kuingin rebahkan kepalaku di atas pangkuanmu, lalu aku utarakan kegundahan dan keluh kesahku kepadamu.
Ingin aku tempelkan wajahku di atas telapak tanganmu, dan kuucapkan padamu kata cinta, kerinduan dan kesedihanku.
Kuingin tanganmu elus kepalaku, membimbingku, dan mendidikku.
Kuingin engkau selalu ada di sisiku.
Tapi, dimanakah engkau wahai ayahku….?!!!
Diriku bukanlah yatim yang ditinggal mati orangtuanya
Tapi, yatim karena ditinggal orangtuanya yang selalu sibuk di luar rumah[3]
[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya, dari hadits Abu Juhaifah dalam kitab ash-Shaum nomor 1968, dan lafazh Waliwaladika 'alaika haqqan adalah tambahan dalam riwayat Muslim, nomor 1159 dalam kitab ash-Shaum. Imam Tirmidzi dalam Jami'nya memberi tambahan: Walidhaifika 'alaika haqqan, dalam kitab az-Zuhdu nomor 2417
[2] Shahih al-Jami' karya al-Albani nomor 4481, dari Ibu Umar, Musnad Hasan
[3] Amir asy-Syu'araa': Ahmad Syauqi
Tuntutan Jiwa
Ayahku, aku ucapkan terima kasih atas semua yang engkau curahkan, demi aku dan kebahagiaanku.
Engkau telah memberiku sebaik-baik pemberian, makanan, minuman dan kendaraan.
Engkau telah menempatkan aku di tempat yang paling aman nan indah.
Engkau telah memberikan ketenangan dan kesejahteraan sesuai kemampuanmu.
Tapi wahai ayahku, engkau telah melupakan dan melewatkan kebutuhan dan tuntutanku yang paling penting.
Itulah tuntutan-tuntutan jiwa, hati, iman, dan segala hal yang akan menuntunku dalam ketaqwaan.
Apakah engkau telah memenuhinya, sebagaimana engkau telah memenuhi hak-hak atas tubuhmu, pekerjaanmu, teman-temanmu itu?!
Wahai pelayan jasad, seberapa banyak engkau membuatnya tenang
Kau ikuti nafsumu yang membuatmu merugi.
Perhatikan jiwamu dan penuhi tuntutannya
Karena manusia hidup sebab jiwanya, bukan jasadnya.[1]
Wahai Ayahku, aku ingin engkau pegang tanganku dan engkau ajak aku menghadiri majlis ilmu yang bisa menambah pengetahuan dan amal ibadahku…?!
Kapan engkau akan datang padaku sambil membawa kaset ceramah Islami yang bisa mengisi waktuku dan memperluas wawasanku?!
Kapan engkau akan berikan padaku buku-buku agama, engkau membimbingku dan terangi jalanku pada masa sekarang yang sarat dengan kegelapan, diliputi kepekatan maksiat dan syahwat?!
Kapan engkau akan rapatkan kakimu pada kakiku, pundakmu pada pundakku, untuk menunaikan shalat berjamaah dalam rangka melaksanakan perintah Allah, "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Thaha: 132). "Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang." (QS. an-Nur: 36).
Dan dalam rangka menunaikan sunnah Rasulullah saw.,
"Perintahkanlah shalat kepada anak ketika ia menginjak umur tujuh tahun, dan ketika ia menginjak umur sepuluh tahun, pukullah dia (jika tidak mau) melaksanakan shalat!"[2]
Kapan engkau akan ajari aku untuk membaca dan menghafal Al-Qur'an?!
Kapan engkau mengajariku sunnah Nabi-Nya?!
Kapan juga engkau akan memberiku pemahaman dan teladan dalam agama?!
Para pemuda tumbuh berkembang di sisi kami sebagaimana kebiasaan ayahnya
Seorang pemuda tidak berbuat baik karena dugaan
Tapi ia berbuat baik atas dasar pengaruh kerabat-kerabatnya[3]
Rasulullah saw. bersabda,
"Sesungguhnya Allah bertanya kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia dijaga atau disia-siakannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang keluarganya."[4]
[1] Abu al-Fathi al-Basty
[2] Shahih al-Jami': 5867, diceritakan dari Ibnu Umar dengan sanad yang shahih
[3] Abu al-'Ala' al-Ma'arry
[4] as-Silsilah ash-Shahihah karya al-Albani nomor 6261 diceritakan dari Anas, ini hadits shahih
.... Anda tertarik? nantikan edisi cetakkannya yang insya Allah segera kami terbitkan...
Wassalam
Redaksi
| < Sebelumnya |
|---|



