program wakaf

belanja
Embun BookStore klik Beli untuk belanja

rss
Info & Promo
Kajian
Resensi
pencarian
Embun Publishing Artikel Mereka Menyembah Kelapa

Mereka Menyembah Kelapa

Artikel
Mereka Menyembah Kelapa


Aku berkata kepada mereka yang menyembah orang-orang yang telah mati.
Orang-orang mati itu, yang kalian tangisi di beranda kuburannya dan diharapkan pertolongannya. "Apakah mereka itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau, (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?" (Asy-Syu’arâ` [26]: 73).
Tidak, demi Allah, mereka tidak mendengar dan mengambil manfaat apa pun. Bahkan, mereka mengecewakan dan memberikan kemudharatan.

Alangkah indah yang dilakukan remaja yang baru berusia tiga belas tahun ini. Ia pergi bersama bapaknya ke India. India adalah sebuah negara besar dan memiliki tuhan beraneka ragam. Mereka menyembah segala macam, baik hewan, tumbuh-tumbuhan, benda tidak bergerak, manusia, ataupun bintang-bintang. Anak itu masuk ke salah satu tempat peribadatan. Lalu, ia melihat orang-orang menyembah buah kelapa yang telah digambar kedua mata, hidung, dan mulut. Kepada buah kelapa itu mereka menyuguhkan asap wangi-wangian, makanan, dan minuman. Kemudian anak itu melihat mereka berdoa kepada buah kelapa itu. Ketika mereka sujud kepadanya, anak itu mendekati buah tersebut, mengambilnya dengan sembunyi-sembunyi lalu melarikannya. Ketika mereka mengangkat kepala dari sujud, mereka tidak lagi menemukan tuhannya. Lalu, mereka pun menengok dan ternyata anak itu telah membawa tuhan mereka dan melarikannya. Mereka lalu menghentikan doanya dan berlari di belakang anak itu. Ketika telah jauh dari mereka, anak itu duduk di atas tanah dan mengupas buah kelapa itu lalu meminum airnya dan melemparkannya ke atas tanah. Orang-orang itu berteriak ketika melihat tuhannya dihancurkan. Lalu, mereka pun menangkap anak itu, memukulinya dan membawanya ke hakim daerah itu.

Sang hakim bertanya kepada anak itu, “Kamu yang menghancurkan tuhan?”
“Tidak, tapi aku menghancurkan kelapa,” jawabnya.
“Tapi, kelapa itu tuhan mereka,” sela sang hakim.
“Pak hakim, pernahkah Anda menghancurkan kelapa dan memakannya?” anak itu balik bertanya.
“Ya,” jawab sang hakim.
“Jadi, apa bedanya?” kata si anak.
Mendengar itu, hakim tersebut diam dan bingung. Ia menatap ke orang-orangnya seraya meminta jawaban dari mereka.
Mereka berkata, “Kelapa itu mempunyai kedua mata dan mulut.”
Anak itu berteriak kepada mereka, “Apakah kelapa itu dapat berbicara?”
“Tidak,” jawab mereka.
“Apakah ia dapat mendengar?” tanyanya, kembali.
“Tidak,” jawab mereka.
“Jadi, mengapa kalian menyembahnya?” katanya, menohok.
“Lalu heran terdiamlah orang kafir itu;

dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah [2]: 258).


Sang hakim menatap mereka. Ia merasa takut mereka akan menyakiti anak tersebut.
Hakim berkata kepada anak itu, “Kami telah memutuskan sanksi untukmu. Yaitu mewajibkanmu membayar denda sebesar 150 (seratus lima puluh) rupe.
Lalu, anak itu membayar denda tersebut dan keluar dari persidangan dengan penuh kemenangan.

dikutip dari buku : Open Mind Open Heart, Embun Publishing