program wakaf

belanja
Embun BookStore klik Beli untuk belanja

rss
Info & Promo
Kajian
Resensi
pencarian
Embun Publishing resensi Buku Keluarga The Great Knight

The Great Knight

Buku Keluarga

Antara Mata Pedang dan Mata Hati

The Great Knight
The Great Knight

Islam bukanlah agama yang disebarkan dengan pedang. Tetapi, dari sejarah penyebarannya banyak lahir pahlawan-pahlawan perang pilih tanding yang memiliki keberanian dan kecerdasan dalam mengatur strategi. Sebut saja nama besar semisal Khalid bin Walid, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Haritsah, Sa’ad bin Abi Waqash, dan sederetan nama lainnya.

Khalid bin Walid adalah salah seorang pahlawan Islam yang dikenal sebagai prajurit tangguh dan pemimpin perang yang tak terkalahkan. Keberaniannya diakui kawan maupun lawan. Sebelum masuk Islam, ia pun menjadi kebanggaan kaum musyrikin Quraisy untuk memimpin perang bersama Utsman bin Thalhah dan Amru bin Ash. Rasulullah memberi gelar Khalid dengan sebutan yang gagah dan mulia: Pedang Allah.

Keberanian dan keahliannya dalam memimpin peperangan sulit dicari bandingnya, sehingga Abu Bakar ash-Shiddiq berkomentar “tiada lagi wanita yang akan melahirkan Khalid bin Walid”. Pertempuran dalam rangka menyebarkan dan menegakkan agama Allah bagi Khalid merupakan aktivitas yang paling ia sukai. Baginya tiada malam yang lebih berkesan kecuali kegelapan dalam kancah pertempuran bersama para mujahidin.

Panglima dan pahlawan Islam lainnya juga merupakan sosok yang tidak jauh berbeda dengan Khalid bin Walid. Keberanian dan ketangkasan mereka mengantarkan kemenangan demi kemenangan bagi Islam, sehingga kalimat Allah akhirnya bisa menggema di Andalusia, Cina, sampai perbatasan Sindi dan India. Gerakan mereka meluas dari Qairawan hingga Byzantium, daerah perbatasan Tunisia, kemudian mencapai pantai laut putih bagian tengah yang mencakup Cyprus, Skotlandia. Kalimat Allah memenuhi hampir tiga per empat dunia, mencakup Bukhara, Caucasus, Tanzania, Serbia, dan Gibraltar. Bahkan, ketika itu gema kalimat Allah meliputi tiga benua, Eropa, Asia, dan Afrika.

Mereka adalah para kesatria pemberani yang ditempa langsung oleh Rasulullah saw. Tidak hanya soal-soal fisik dan ketangkasan perang yang mereka dapatkan, namun juga bagaimana cara menghidupkan hati dan memiliki nurani. Oleh karenanya, meski di bahu mereka tersandang pedang, tetapi di balik pedang-pedang itu tersimpan akhlak yang mulia. Keberanian mereka dilandasi satu moto: “hiduplah dengan kemuliaan atau matilah secara syahid”. Salah seorang utusan Islam pernah berkata kepada Raja Persia, “Kami datang menghadapmu dengan pasukan yang mencintai kematian seperti kalian mencinta kehidupan.”

Meskipun begitu, mereka bukanlah mesin perang yang siap menggilas siapa pun. Mereka bukan robot-robot yang hanya mau bergerak tunduk kepada tuannya. Mereka juga bukanlah duta kekejaman yang menggorok siapa pun tanpa pandang bulu. Bukan itu semua. Mereka adalah para pemberani yang menghargai dan menjunjung tinggi nurani. Maka dalam sejarah peperangan Islam tidak pernah ditemui strategi pembumihangusan, tidak ada pembunuhan masal ala Hitler, tidak ada kekejaman dan pemerkosaan seperti yang dilakukan para penjajah pada abad-abad sekarang.

Mereka adalah generasi prajurit yang gagah berani bila siang hari, tetapi bila malam hari tiba mereka berubah bagai para biarawan. Mereka adalah generasi yang menyebarkan rasa aman setelah ketakutan dan membawa cahaya kebenaran Islam setelah kegelapan. Kemenangan bagi mereka hanyalah sebuah jalan untuk menabur sikap toleransi, mengikat persaudaraan, dan melindungi sesama.

Ketika pasukan Islam berhasil memasuki pintu Baitul Maqdis, pemimpin pasukan Romawi setuju untuk menyerahkan kota tersebut secara langsung kepada Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Setelah pembicaraan soal proses perdamaian usai, Umar permisi keluar dari gereja tempat mereka berunding untuk shalat di tempat lain. Ketika ditanya kenapa tidak shalat saja di dalam gereja, Umar menjelaskan bahwa sesungguhnya ia takut generasi setelahnya akan menghancurkan gereja tersebut, kemudian mengubahnya sebagai masjid dengan alasan Umar pernah shalat di tempat tersebut. Ini sikap toleransi antarumat beragama yang harus dicontoh dari seorang pemimpin Islam.

Perhatikan juga bagaimana Rasulullah saw. berpesan ketika beliau melepas pasukan menuju medan pertempuran, “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, berbuat baik kepada sesama, dan berperang dengan nama Allah. Perangilah musuh Allah dan musuh kalian di Syam. Di sana kalian akan menemui orang-orang yang mencari perlindungan ke tempat-tempat ibadah, maka jangan menyerang mereka. Jangan pula kalian membunuh wanita, anak-anak kecil, dan orang tua. Jangan merusak pepohonan dan jangan menghancurkan bangunan.”

Buku The Great Knight: Kesatria Pilihan di Sekitar Rasulullah menampilkan pahlawan-pahlawan perang Islam di masa lalu. Mereka lahir dari perjalanan sejarah yang cukup panjang dan melelahkan. Banyak orang yang mengagumi kecakapan mereka, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang mencibir bahkan menuduh Islam sebagai agama yang melegalkan peperangan.

Di dalam buku ini, Dr. Abdurrahman ‘Umairah, memilih 24 sahabat Nabi yang pernah menorehkan sejarah dengan gagah berani selama masa-masa penyebaran Islam. Kemudian ‘Umairah menyentuh sisi-sisi humanisme untuk menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya Islam tidaklah disebarkan dengan pedang. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, ‘rahmat bagi seluruh alam semesta’.


Subhan, S.S.

Pemerhati buku dan Editor in Chief di salah satu penerbitan buku di Jakarta