program wakaf
| Indeks Artikel |
|---|
| Antara Kecantikan dan Kebebasan Perempuan |
| halaman2 |
| Seluruh halaman |
Kampaye kebebasan perempuan bisa merugikan perempuan itu sendiri. Kini, sering kali slogan tersebut diterjemahkan mengarah pada eksploitasi perempuan, sehingga secara tidak langsung merenggut kemuliaan perempuan yang dibutuhkan masyarakat.“Katakanlah kepada perempuan-perempuan beriman “Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluan, dan jangan menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya....”
(An-Nûr [24]:31)
Slogan kebebasan perempuan untuk beremansipasi bisa menjerumuskan perempuan ke pangkuan serta objek pemuas hasrat kaum laki-laki.
Slogan berpartisipasi dan ber-interaksi dalam segala bidang ke-hidupan, ternyata melupakan maslahat kaum perempuan bagi dirinya sendiri dan masyarakat.
Slogan kebebasan akal, malah mengarah kepada kebebasan nafsu.
Slogan kebebasan perempuan untuk beraktivitas di luar rumah, ternyata melupakan pentingnya pendidikan di dalam rumah, padahal dari madrasah rumah itulah akan lahir generasi-generasi cerdas dambaan umat.
Sering kali seruan kebebasan perempuan lebih mengarah pada penyesatan perempuan dan masyarakat pada umumnya.
Terkadang, bentuk kebebasan perempuan dari budaya masyarakat ditampilkan dengan mode berpakaian. Banyak perempuan yang menganggap dirinya modern bila mengenakan pakaian yang mempertontonkan anggota tubuh. Seakan-akan, pakaian itu berkata kepada setiap orang yang me-mandangnya, “Lihatlah ini... lihatlah ini....”
Kebebasan perempuan yang seperti ini telah membebaskan dan melepaskan perempuan dari akal dan kesuciannya, yang kemudian terjerumus ke dalam rekayasa yang keji dan hina.
Apapun yang mengatasnamakan kebebasan perempuan seperti di atas, pada akhirnya akan mengarah pada kerusakan dan hilangnya harga diri seorang perempuan.
Tiga Perkara yang Mengubah Tiga Hal
Sejalan dengan munculnya slogan kebebasan perempuan, maka slogan ini berkaitan dengan tiga kebebasan, yaitu kebebasan perempuan, kebebasan cinta, dan kebebasan pernikahan. Munculnya tiga perkara tersebut me-nyebabkan berubahnya tiga hal lain, di antaranya:
- Perempuan yang dulunya diajak untuk menikah dan menjadi istri, sekarang lebih banyak dijadikan sebagai objek permainan dan selingkuhan. Dulu perempuan memiliki kedudukan yang terhormat dalam jiwa manusia sebagai seorang ibu, seorang istri, dan seorang saudara. Kini para pemuda atau kaum laki-laki berani melecehkan perempuan tak ubahnya sikap mereka ter-hadap wanita nakal atau pelacur. Dulu, perempuan terjaga dari aib dan cemoohan, sekarang malah mereka sendiri yang menuju tempat-tempat aibnya dengan dalih kebebasan, sehingga berbagai cela datang kepadanya dengan sangat mudah.
- Kebebasan dalam cinta. Dulu cinta merupakan sarana untuk saling mengenal antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan dan syarat-syarat tertentu. Ketika cinta menjadi sebuah kebebasan antara laki-laki dan perempuan, maka keadaan berubah. Cinta berubah menjadi alat bagi laki-laki untuk menundukkan wanita atau sebaliknya. Maka, ketika sesuatu berubah menjadi sarana tipu daya, ia akan keluar dari batas kehormatan. Bahkan, kehormatan itu sendiri menjadi kata-kata untuk menipu.
- Kebebasan pernikahan. Ketika pernikahan menjadi sebuah kebebasan, maka seorang perempuan akan menyerupai kedudukan seorang suami. Adapun perbedaan antara suami dengan serupa suami: yang pertama adalah “laki-laki yang tetap” sementara yang kedua adalah “laki-laki yang datang dan pergi”. Laki-laki yang tetap adalah laki-laki yang tetap ada bersama perempuan karena hak laki-laki; sedangkan laki-laki yang “datang dan pergi” adalah laki-laki yang datang kepada perempuan atau meninggalkannya, namun dengan kehendak si perempuan. Perempuan terhormat dan mulia adalah dia yang lebih memilih laki-laki yang tetap daripada yang datang dan pergi.
< Sebelumnya
Selanjutnya >



